Saturday, 1 October 2016

Puisi Tentang Sahabat

RUMIT
Oleh Rocky Malik Rafimanna

Berpikirlah...
Semua itu, tak sedangkal yang kau bayangkan
Tak semua tatapan berarti cinta
Tak semua perhatian berarti cinta
Tak semua harapan berarti cinta
Tak semua kepedulian berarti cinta
Tak semua rindu berarti cinta
Cinta dan persahabatan
Semua itu rumit
Belajarlah lebih dalam

Puisi Tentang Sahabat, TEMAN SEBANGKU

TEMAN SEBANGKU
Oleh : Ilham Setiawan
Teman sebangku...
Tak pernah sesak rasa untuk berbagi
Di sisi dan di samping wajah penuh senyum santun
Berbagi plot demi plot yang di atas rata-rata
Jiwa kita bersemi-berbunga bersama canda
Teman sebangku...
Kerap kulihat kau bertingkah
Lucu bila kenangan berkeliat mesra di antara kita
Lincah sekali merancang mimpi
Tenang sekali berburu kicau dunia
Dan lihai menari di atas bangku singgasana
Teman sebangku...
Sanjungku terhadapmu
di balik selimut yang tak hangat lagi
Di atas sprei yang tergenang air mata
Dan peluh di rinai hati yang lagi lagi mengusik batin
Ku ucapkan salam dan hormat untukmu
Teman sebangku...
Heningku menyatukan larikan batin
Rasa yang berhumus seperti tanah yang tandus
Tanpamu sepilah waktu berlalu
Teman sebangku...
Sepoi angin coba ku tangkap
Di subuh syahdu aku masih berkutat
Mengisi diri dengan himbauan Tuhan
Serta kewajiban atas tuntutan hidup yang kurasa kejam
Teman sebangku-ku
Layang-layang kita masih beradu kuat
Bergesek di antara angin yang terbakar
Di atas padi yang mengkuning
Di sebuah senja berekor cakrawala yang masih tertawa
Kita begitu lucu menghibur jiwa kita
Kebebasan!
Tanpa anarki yang menahan jiwa kita
Teman sebangku...
Dimana kini senyumu
Ku cari di selah dompetku
Tak ada?
Oh betapa rindunya jiwaku
Untuk bersenda gurau dan merajut asa
Dan menertawai para ilmuan yang mengejutkan kita
Teman sebangku-ku
Yang kurindu.



Friday, 30 September 2016

Puisi Untuk Ayah, AYAH

AYAH
Oleh Indah Rojaevih
Ayah
Terimakasih atas nasehatnya
Terimakasih atas didikannya
Terimakasih atas kasih sayangnya
Terimakasih atas semuanya
Aku masih ingat
Waktu kau mengambil buku
Milik orang lain
Kau memintanya untukku
Dan kau berikan untukku
Supaya aku rajin belajar
Terimakasih ayah..
Atas perjuangannya untuk meminta buku itu

Thursday, 29 September 2016

Puisi Untuk Ayah, KESATRIA TERHEBAT

KESATRIA TERHEBAT
Oleh Umi Kholifah

Mentari tak cukup tega meninggalkan sang awan
Menyengat, membakar setiap sel insan
Di Padang ladang pangan desaku
Tiupan lembut sang bayu
Menggoyangkan dedaun mungil

Di sudut lain
Duduk termenung sendiri
Tatapan redup, kosong menanti hari
Serasa memanggul berat beban kehidupan
Raut wajah yang tak lagi muda
Asa yang selalu menghamba disosoknya
Keringat menjadi teman setianya

Ayah . . .
Dalam hening menggejolak rinduku
Ingin kudekap hingga terlelap
Agar kita merajut mimpi
Esok kelak asa menjadi nyata
Laksaksana ombak di pantai
Berjuta nalurimu
Berdiri gagah menantang arus terjal kehidupan
Menatap merangkul masa depan putra -  putrimu
Menjadi imam disetiap doa

Ayah . . .
Izinkanku memelukmu
Hingga puing butir air mata menetes tiada sadar
Ayah . . .
Pinjami aku hatimu
Agar ku tau
Bagaimana cara berjuang
Tanpa sedikit pun mengeluh

Tuhan . . .
Engkau Melihat
Engkau Mendengar
Engkau Meridhoi setiap doau
Engkau telah menciptakan
Kesatria terhebat di jagad raya ini
Lindungilah kesatriaku dalam cinta kasih sayang-Mu
Seperti ia menyayangku tiada akhir

Ayah . . .
Aku mecintaimu . . .

Puisi Untuk Ayah, KESATRIA TERHEBAT

KESATRIA TERHEBAT
Oleh Umi Kholifah

Mentari tak cukup tega meninggalkan sang awan
Menyengat, membakar setiap sel insan
Di Padang ladang pangan desaku
Tiupan lembut sang bayu
Menggoyangkan dedaun mungil

Di sudut lain
Duduk termenung sendiri
Tatapan redup, kosong menanti hari
Serasa memanggul berat beban kehidupan
Raut wajah yang tak lagi muda
Asa yang selalu menghamba disosoknya
Keringat menjadi teman setianya

Ayah . . .
Dalam hening menggejolak rinduku
Ingin kudekap hingga terlelap
Agar kita merajut mimpi
Esok kelak asa menjadi nyata
Laksaksana ombak di pantai
Berjuta nalurimu
Berdiri gagah menantang arus terjal kehidupan
Menatap merangkul masa depan putra -  putrimu
Menjadi imam disetiap doa

Ayah . . .
Izinkanku memelukmu
Hingga puing butir air mata menetes tiada sadar
Ayah . . .
Pinjami aku hatimu
Agar ku tau
Bagaimana cara berjuang
Tanpa sedikit pun mengeluh

Tuhan . . .
Engkau Melihat
Engkau Mendengar
Engkau Meridhoi setiap doau
Engkau telah menciptakan
Kesatria terhebat di jagad raya ini
Lindungilah kesatriaku dalam cinta kasih sayang-Mu
Seperti ia menyayangku tiada akhir

Ayah . . .
Aku mecintaimu . . .

Puisi Tentang Islam, MASJID

MASJID
Oleh Faidul Wizari

Ada tiang dan menara terompet udara
Tempat bertapa dan memohon sembuh luka.
Kulewati pintu-pintu yang peluh
Dan berkata “aku bersaksi penuh”
Tapak kaki,
Perasaan yang berlari,
Jiwa yang pergi sendiri,
Mata yang redup,
Dosa yang terlempar surut
"Di sini tangan Tuhan memungut_
Jiwa-jiwa kelana kembali berjumpa
Meski berjuta retak di muka
Menepuk lubuk hati bertangisan,
Memukul menusuk sekarang pertarungan Antara dua; kiri dan kanan
Di medan saling mematikan
Antara hidup dan mati
Sampai Tuhan membalas nanti

Wednesday, 28 September 2016

Puisi Untuk Ayah, TENTANG RINDU KEPADA BAPAK

TENTANG RINDU KEPADA BAPAK
Oleh Nunung Nurningsih
Aku rindu menabur benih biji-bijian pada lubang-lubang tanah gembur.
"Bercocok tanam palawija bisa sangat menghibur."
Begitulah bapak bertutur.
Lihatlah, kala itu kedua tanganku belajar untuk selalu sigap.
Kanan memilah bulir-bulir benih.
Jemari kiri menangkup semangkuk bebijian dengan mengabaikan rasa letih.
Aku terkesiap, tongkat 'sakti' bapak seolah berderảp.
Laksana pijakan kaki serdadu siap tempur.
Gagah berani walau siap hancur.
Dan kedua kakiku terseret.
Semampu raga agar tak jadi lelet.
Demi mengejar langkah dan derap tongkat pelubang tanah milik bapak.
Namun semakin kukejar, sosok bapak semakin jauh.
"Ah, sungguh gagah lelaki berumur itu," desisku.

Terpanjat do'a tuk seorang insan Tiada lain kau yang ku dambakan Besar angan dan harapan Allah cipta kita tuk disatukan . Seb...