Thursday, 8 September 2016

Puisi Galau, ANGAN YANG NYATA

ANGAN YANG NYATA
Oleh Mita Lestari

Biarlah waktu yg menjawab
Kapankah semua ini kan berakhir?
Dalam diam
Kagum ini semakin menjadi jadi

Setiap ku tatap senyummu
Kebahagiaan serasa menyelimuti khalbu ini
Kau memang tak salah
Mungkin aku lah yg terlalu berharap

Berharap rasa sama yg kau miliki untukku
Benar benar ada dalam khalbu mu
Bukan antara peka atau tak peka

Namun ..

Biarlah diri ini
Tetap tanam rasa cinta dan kasih sayang
Dalam setiap intisari doa
Dalam setiap angan yg menerpa
Wajahmulah yg slalu muncul dalam lamunan jiw

Puisi Galau, HUTAN

HUTAN
Oleh Parjan Gibran

Sering singgah sedikit rasa
Menggebu tiada jeda
Bergumul gelap di layar mata

Di akhir bulan yang rawan
Melingkupi hati dan fikiran
Rusuh meluluh-lantakan keadaan

Berjalan semakin pusing
Ketika berlari semakin genting
Duduk sendiri tak bergeming

Tak ada penolong
Kedua tangan hanya bengong
Tetap saja hampa dan kosong

Kadang melamun
Terbang angan terayun
Tersesat jauh tanpa lantun

Coba memutar otak
Tak kunjung temukan solusi
Malah semakin terdesak
Dan stress di dapati

Tak perlu tanya
Rasa apa yang ku bawa
Kau pun pasti pernah merasakannya
KEMELUT DAFTAR HUTANG YANG BERJAYA

Wednesday, 7 September 2016

Puisi Tentang Ibu, JERITAN HATI ANAK SEBATANG KARA

JERITAN HATI ANAK SEBATANG KARA
Oleh Marsyana Melati Sihombing
Walau jenih mata air itu ku tak mampu meminumnya
Walau indah bintang di langit takkan mampu ku meraihnya
Seperti gelombang yang tercampak ke tepi pantai,,,
Seperti daun kering jatuh tertiup angin,,
Demikianlah hidupku bunda,,tak ada satu pun yg memikirkan nasibku,,
Betapa sakitnya bagianku ini oh ibu
Kepergianmu begitu cepat meninggalkanku sendiri,,,
Betapa perihnya hati ini ya ibu
Tak ada tangan yg menuntunku
Tak ada tangan yang menghapus air mataku
Tak ada tangan yang membelaiku,
Engkau begitu cepat pergi meninggalkanku
Saat ku berumur setengah tahun oh ibu
Aku tlah ditinggalkan ibu dan ayah
Perih, pilu dan derita kurasakan ibu
Disaat engkau tlah pergi ibu
Bagiku anakmu yang pilu ini
Tak terhitung lagi derita dan tangis ini ibu
Kupeluk kuburanmu ibu
Kucium batu nisanmu dan ku bersihkan sekelilingnya
Hatiku hancur,,seperti bebatuan yang roboh
Saat ku rindu ingin bertemu dengan ayah dan ibu
Ternyata sudah bahagia dalam peristirahatannya
Takkan terhitung deritaku ini ayah,,ibu
Saat kau tlah meninggalkanku,
Hanya satu keinginan di hatiku,,
Kelak aku bisa memeluk,dan meraihmu di sorga,,,,
Ibu,,ayah,,aku merindukanmu

Tuesday, 6 September 2016

Puisi Tentang Sahabat

MEMORI DI PAGI YANG LALU
Oleh Fajar Sany

Masih ingat aku, bersamamu kawan, dalam mobil itu
Waktu itu, bertahun-tahun yang lalu
Saat mobil berjalan di atas jalan layang itu
Kita dapat melihat pemandangan yang luas
Merasakan betapa sejuknya udara
Menyaksikan mentari pagi yang menyinari semuanya
Kuning terang memantul di kaca setiap bangunan
Hijau bercahaya memancar dari pepohonan
Langit biru dengan awan-awan putih
Burung-burung berseliweran sambil bernyanyi
Dan segarnya tatapan orang-orang
Kamu berkata:
Tempat ini begitu indah,
Aku tidak akan meninggalkan tempat ini,
Aku mencintainya

Waktu pun berjalan
Hingga tibalah hari itu
Kamu mengingkari janjimu
Tapi aku tahu kamu tidak menginginkannya
Kamu pergi meninggalkan kami semua
Bukan sebentar saja
Tapi selamanya
Selamat jalan kawan
Semoga kamu tenang disana, di tempat barumu

Puisi Untuk Ayah, SANG PAHLAWAN Nyata (AYAH)

SANG PAHLAWAN Nyata (AYAH)
Oleh Tarmizi izzy

Sedikit kasihku mungkin tak mampu menangkis celoteh hidupmu..
Sedikit kasihku mungkin tak mampu menelisik ruang canda tawamu.
Sedikit kasihku mungkin tak dapat menghapus cemas di benakmu.
Sedikit kasihku mungkin tak dapat mengganti segala ragu di wajahmu.
Kau tak seperti Dewa, namun mampu teguh dan tampak perkasa.
Kau tak seperti Arjuna, namun mampu memenjarakan Nestapa
Kau tak seperti raja, namun mampu menepis segala keluh kesah.
Kau tak seperti ksatria, namun tetap bijaksana.
Kutahu, rambut- rambut halus di kepalamu yang dulu hitam  kini telah bercorak putih,
Kutahu, kulit mu yang dulu tampak kencang dan  keras  kini tak terlihat seperti biasanya.
Ayah,~
Marah mu adalah cinta yang terbungkuskan kasih sayang,
Marah mu adalah Sayang yang terbungkuskan Ketulusan
Tamparan mu adalah Tamparan tentang  kepedulian
Tamparan mu adalah seruan kebijaksanaan.
Ayah,~
Engkau memang bukan dewa  tapi engkau tetaplah sosok panutan
Engkau memang bukan raja tapi engkau tetaplah sosok  pemimpin yang selalu jadi harapan
Engkau memang bukan ksatria tapi engkau tetaplah sosok yang selalu hadirkan kecerian
Engkau memang bukan arjuna tapi engkau tetaplah sosok yang selalu  hadirkan kasih sayang.
Ayah,~
Umurmu bukanlah alasan, tetaplah menawan
Umurmu bukanlah alasan, tetaplah jadi Sandaran
Keluh kesahmu bukanlah alasan, tetaplah jadi penyokong semangat kesuksesan
Ragu mu bukanlah alasan, tetaplah tersenyum dalam kebaikan
Lesuh mu bukanlah alasan, tetaplah tunjukkan semangat perjuangan
Sakitmu bukanlah alasan, tetaplah jadi sosok pahlawan ( Pahlawan dalam kisah kenyataan)~

Puisi Tentang Islam, PERJUANGAN DAKWAH

PERJUANGAN DAKWAH
Oleh Aldo Budi Santoso

Saat aku tersendat di jalan dakwah
Terasa berat mengemban amanah
Serasa pulang dari medan mu
Yang berjuang sampai berdarah - darah
Ku renungi dengan akal sehatku
Inikah jalan yang mereka rindu
Yang Rasulullah bilang mereka sahabatku
Ku menatap luasnya langit
Berharap keluar dari dunia yang sempit
Dari dunia yang fana
Yang selalu tertimpa bencana
Mungkin inilah jalan yang harus kutempuh
Sebuah metafora jalan dakwah
Ku harus terus melakukanya tanpa keluh
Sampai ku berpijah di pelataran jannah

Monday, 5 September 2016

Puisi Patah Hati, TERCIPTA LUKA

TERCIPTA LUKA

  Oleh Ilham Setiawan
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angka
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas langkah kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar,ada yang masih bersikeras abadi.
Selamat malam purnama berkabut
Seulas kata tersenyum menyapamu
Membingkai detik waktu yang saling bersahutan
Siapa yang masih sibuk berdetak di bilik waktu?
Siapa aku?
Barisan syair tak terhitung
Atau...
Sakit peluh tercacat sedikit kebahagiaan
Cinta, berapa lama kau berkelana?
Berapa purnama sudah kau lewatkan tanpaku?
Berapa kali aku menghujam langit
Tapi kau diam tetap bercahaya serinai bias bintang di angkasa
Kau bagai lukisan tuhan di langit senja
Tak cacat oleh seutas kabutpun
Tetapi hujan masih rintik berbaris di langit malam
Mengambang di bumi
Bergelanyut mencium unjung daun cemara
Lagi...
Mimpiku tak tercipta malam ini
Tak jua malam-malam menyayat berikutnya atau lalu pula
Dan semoga Takdir Tuhan mengiringi insan ini
Tuhan yang lebih dekat dari sukmaku sendiri
Selamat tinggal cinta....

Terpanjat do'a tuk seorang insan Tiada lain kau yang ku dambakan Besar angan dan harapan Allah cipta kita tuk disatukan . Seb...